Selasa, 28 Mei 2013

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Semangka (Citrullus Lanatus Tunb)

Semangka adalah salah satu jenis tanaman yang merambat yang termasuk kedalam suku Cucurbitaceae (Labu-labuan). Buah semangka berbentuk bulat/lonjong dengan warna kulit luar berwarna hijau.
Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Semangka  (Citrullus Lanatus Tunb)
Semangka adalah salah satu jenis tanaman yang merambat yang termasuk kedalam suku Cucurbitaceae (Labu-labuan). Buah semangka berbentuk bulat/lonjong dengan warna kulit luar berwarna hijau. Jika sudah masak, dalam buah semangka berwarna merah dan banyak biji yang menempel. Biji semangka berbentuk pipih lonjong dengan ukuran panjang sekitar 1 cm dan lebar sekitar 0,5 cm. Daun semangka berukuran cukup besar, berlekuk-lekuk tepinya, berwarna hijau dan bunga berwarna kuning.

Semangka mempunyai nama ilmiah Citrullus lanatus (Tunb). Dalam bahasa Jawa, semangka disebut dengan semongko dan dalam bahasa Inggris, semangka disebut dengan nama Water melon.

klasifikasi ilmiah dari semangka (Citrullus Lanatus Tunb) :

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Subkelas : Dilleniidae

Ordo : Violales

Famili : Cucurbitaceae

Genus : Citrullus


Semangka mirip dengan melon (Cucumis melo L.). Keduanya termasuk famili Curcubitaceae. Famili ini memiliki sekitar 750 jenis yang tumbuh tersebar di daerah tropika. Beberapa anggota famili Cucurbitaceace yang dikenal sebagai tanaman sayuran, di antaranya ketimun (Cucumis sativus L.), waluh (Cucurbita maxima Duch), oyong (Luffa cylindrica (L) Roem), paria (Momordica charantia L.), labu siem (Sechium edule (Jacq) Sw.), bligu (Benincasa hispida (Thumb) Cogn), dan labu air (Lagenaria siceraria (Mol) Standl).

Di Jepang, labu air dan waluh digunakan sebagai pohon pangkal semangka untuk menghindari penyakit layu.
Semangka termasuk tanaman semusim sehingga di Amerika, Eropa, Jepang digolongkan ke dalam kelompok tomat, cabe, terong sebagai golongan sayuran buah. 

Di Indonesia, semangka termasuk golongan buah-buahan seperti halnya melon dan stroberi.

Batang semangka berbentuk bulat dan lunak, berambut, dan sedikit berkayu. Batang ini merambat, panjangnya sampai 3,5-5,6 meter. Cabang-cabang lateral mirip dengan cabang utama. Daunnya berbentuk caping, bertangkai panjang, dan letaknya berseberangan. Bunga semangka berjenis kelamin satu, tunggal, berwarna kuning, diameternya sekitar 2 cm.

Senin, 27 Mei 2013

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Durian (Durio zibethinus Murr)

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Durian (Durio zibethinus Murr)
Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Durian (Durio zibethinus Murr)
Tumbuhan berbentuk pohon, berumur panjang (perenial), tinggi 27 - 40 m. Akar tunggang. Batang berkayu, silindris, tegak, kulit pecah-pecah, permukaan kasar, percabangan simpodial, bercabang banyak, arah mendatar. Daun tunggal, bertangkai pendek, tersusun berseling (alternate), permukaan atas berwarna hijau tua - bawah cokelat kekuningan, bentuk jorong hingga lanset, panjang 6,5 - 25 cm, lebar 3 - 5 cm, ujung runcing, pangkal membulat (rotundatus), tepi rata, pertulangan menyirip (pinnate), permukaan atas mengkilat (nitidus), permukaan bawah buram (opacus), tidak pernah meluruh, bagian bawah berlapis bulu halus berwarna cokelat kemerahan. 

Bunga muncul di batang atau cabang yang sudah besar, bertangkai, kelopak berbentuk lonceng (campanulatus) - berwarna putih hingga cokelat keemasan, berbunga sekitar bulan Januari. Buah bulat atau lonjong, panjang 15 - 30 cm, kulit dipenuhi duri-duri tajam, warna coklat keemasan atau kuning, bentuk biji lonjong, 2 - 6 cm - berwarna cokelat, berbuah setelah berumur 5 - 12 tahun. Perbanyaan Generatif (biji). 


Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Dilleniidae
Ordo: Malvales
Famili: Bombaceae
Genus: Durio


Durian tumbuh dalam bentuk pohon, Batang jelas terlihat, berkayu (lignosus), berbentuk silindris. Arah tumbuh batang tegak lurus dengan percabangan monopodial. Arah tumbuh cabang condong keatas dan ada pula yang mendatar. Pepagan (kulit batang) berwarna coklat, mengelupas tak beraturan. 

Daun (folium) Tergolong daun tunggal yang tidak lengkap. Pada suatu daun tidak lengkap terdiri atas beberapa bagian yaitu:
  • Tangkai daun (petiolus)
  • Helaian daun (lamina).

Pertulangan daun menyirip. bagian ibu tulang daun (costa) memanjang dari pangkal daun hingga ujung daun dan dari costa keluar kesamping tulang-tulang cabang (nervus lateralis) sehingga mengingatkan kita pada sirip-sirip ikan. Daun Durio zibethinus Murr berbentuk lanset, 10-15(-17) cm × 3-4,5(-12,5) cm; terletak berseling;; berpangkal dan berujung runcing (acutus) , sisi atas berwarna hijau terang. Tepi daun rata dengandaging daun tebal seperti kulit/belulang (coriaceus). Tangkai daun berbentuk silindris dan tidak menebal pada bagian pangkalnya.


Arilus atau salut biji dari buah durian umumnya dimakan dalam keadaan segar. Daging buah yang tebal ini dapat diolah menjadi beraneka makanan, misalnya dodol durian, kolak durian, tempoyak, permen, es krim, dan lain-lain.

Bijinya bisa dimakan sebagai camilan setelah direbus atau dibakar, atau dicampurkan dalam kolak durian. Kuncup daun (pucuk), mahkota bunga, dan buah yang muda dapat dimasak sebagai sayuran. Akarnya dimanfaatkan sebagai obat demam. Daunnya, dicampur dengan jeringau (Acorus calamus), digunakan untuk menyembuhkan cantengan (infeksi pada kuku). Kulit buahnya untuk mengobati ruam pada kulit (sakit kurap) dan susah buang air besar (sembelit).

 Kulit buah ini pun biasa dibakar dan abunya digunakan dalam ramuan untuk melancarkan haid. Abu dan air rendaman abu ini juga digunakan sebagai campuran pewarna tradisional. Beberapa masyarakat di Jawa menggunakan kulit durian yang telah dimakan sebagai pengusir (repellent) nyamuk dengan meletakkannya di sudut ruangan. Kayu gubalnya berwarna putih dan terasnya kemerah-merahan. Ringan, namun tidak begitu awet dan mudah diserang rayap. Biasa digunakan sebagai perabot rumah, peti-peti pengemas, dan bahan konstruksi ringan di bawah atap, asalkan tidak bersentuhan dengan tanah.

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Wortel (Daucus carota L)

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Wortel (Daucus carota L)
Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Wortel (Daucus carota L)
Wortel merupakan tanaman sayuran termasuk ke dalam jenis tanaman semak, dan tumbuh baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Tanaman wortel mempunyai struktur batang yang pendek, serta akar yang berakar tunggang dapat berubah bentuk menjadi bulat dan disebut dengan umbi. Umbi wortel ini tampak berwarna kuning kemerah-merahan, yang berarti mengandung tinggi senyawa karoten dan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan.


Devisio : Spermatophyta
Sub devisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledon
Ordo : Umbelliferales
Family : Umbelliferae
Genus : Daucus
Species : Daucus carota L

Tanaman wortel memiliki daun majemuk bergaris-garis (lanset), dengan 4 sampai 7 tangkai daun yang berukuran panjang, tangkai daun agak tebal dan kaku namun permukaan daunnya halus. Pada bagian batangnya, berukuran sangat kecil sehingga terkadang hampir tidak terlihat. Biasanya batang wortel berdiameter 1 cm sampai 1,5 cm, memiliki tekstur yang keras, bulat dan tidak berkayu. Batang wortel juga tidak bercabang, tetapi ditumbuhi tangkai daun sehingga seolah-olah terlihat mempunyai cabang.

Dalam taksonomi tanaman, klasifikasi wortel memiliki sistem perakaran serabut dan tunggang. Dalam perkembangannya akar tunggang tersebut akan mengalami perubahan fisiologis atau bentuk dan fungsinya menjadi tempat penyimpanan makanan bagi tumbuhan. Akar ini kemudian tumbuh menjadi besar dan memanjang, pembesaran akar ini dapat mencapai panjang 30 cm dengan diameter sekitar 6 cm. Akar yang telah membesar inilah yang kemudian dikenal dengan nama umbi wortel atau wortel. Selain pertumbuhan akarnya yang khas, tumbuhan wortel juga memiliki bunga yang tumbuh di ujung tangkai, berbentuk menyerupai payung, bertangkai pendek dan tebal, serta berwarna merah jambu pudar atau putih. Bila mengalami pernyerbukan, bunga dapat menghasilkan buah berukuran kecil, ditumbuhi bulu-bulu halus, dan mengandung biji. 

Sekarang ini, dalam sistem klasifikasi wortel telah ditemukan beberapa varietas wortel baru yang memiliki sifat lebih unggul dibandingkan varietas-varietas sebelumnya. Bredasarkan dari bentuk umbinya, varietas wortel dibagi menjadi tiga kelompok, meliputi, Chantenay,Imperator, dan Nantes. Kelompok Chantenay mempunyai bentuk umbi bulat dan panjang dengan ujung yang tumpul, panjang umbi berkisar antara 15-20 cm. Selain itu umbi jenis varietas ini mempunyai rasa yang manis sehingga banyak disukai masyarakat. Pada wortel kelompok Imperator mempunyai bentuk umbi bulan panjang, tetapi dengan ujung yang meruncing, panjang umbi antara 20-30 cm, rasa umbi ini kurang manis jika dibandingkan dengan kelompok Chantenay. Sedangkan kelompok Nantes mempunyai bentuk umbi kombinasi dari jenis Chantenay dan Imperator, yaitu mempunyai bentuk bulat tapi sedikit panjang, dengan panjang rata-rata antara 10-15 cm. Dari ketiga kelompok tersebut, varietas dari kelompok Chantenaylah yang memberikan hasil terbaik dari segi sifat, pertumbuhan, dan hasil panennya, sehingga banyak dicari oleh petani wortel.



Minggu, 26 Mei 2013

JENIS-JENIS SUMBER TENAGA PERTANIAN


Ada dua cara penggunaan tenaga di bidang pertanian yaitu tenaga untuk menarik beban dan tenaga untuk memutar. Pekerjaan menarik antara lain pengolahan tanah, penanaman, penyiangan, panen dan menarik trailer. Sedangkan pekerjaan memotar antara lain memompa air, perontokan, dan menggerakkan mesin pengolahan hasil pertanian lainnya.
Sumber tenaga yang penting di bidang pertanian adalah:
Manusia dapat merubah energi makanan yang dicernanya menjadi kerja mekanis. Dalam hal ini manusia berfungsi sebagai motor dan hasil kerja mekanisnya dapat digunakan dalam berbagai bentuk, baik untuk menarik atau mendorong beban ataupun memutar engkol dan sebagainya. Seorang manusia mampu mengangkat berat sampai dua kali berat badannya, sedangkan kemampuan tarik hanya sekitar 80 sampai 90% dari berat badannya.
fm2-10









Tenaga hewan merupakan sumber tenaga yang memegang peranan penting di bidang pertanian khususnya untuk negara yang sedang berkembang. Tenaga ternak pada umumnya digunakan untuk pekerjaan menarik beban dan kurang sesuai untuk pekerjaan stasioner. Seekor kuda dapat menarik beban 1/10 dari berat badannya secara terus menerus dengan kecepatan 3.75 km/jam tanpa terlalu lelah.
 

Klik disini untuk video
Tenaga angin relatif terbatas penggunaanya karena susah untuk dikontrol dan sering tidak tersedia pada saat-saat dibutuhkan. Sejauh ini penggunaan tenaga angin di bidang pertanian terbatas pada pemompaan air dengan kincir angin. Besarnya tenaga yang dihasilkan oleh angin tergantung dari kecepatan angin dan diameter kincir yang digunakan.
Picture of old wind mill.
4. Air
Tenaga air merupakan sumber tenaga yang populer digunakan khususnya pada daerah aliran air di daerah-daerah yang berbukit atau bergunung dimana terdapat aliran-aliran terjal. Besarnya tenaga yang dapat dihasilkan tergantung dari debit air yang mengalir dan tinggi jatuhnya air.
 
Picture of Shasta DamBreastshot waterwheel animated gif

Penggunaan tenaga listrik di bidang pertanian semakin populer dengan sudah tersedianya listrik sampai ke perdesaan. Tenaga listrik dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti penerangan, pemanasan, pendinginan, menggerakkan motor listrik untuk mesin-mesin pengolahan dan lain-lain. 



sumber.  ipb.ac.id


Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jahe (Zingiber officinale Rocs)

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jahe (Zingiber officinale Rocs)
Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jahe (Zingiber officinale Rocs)
PENGGUNAAN jahe di Indonesia sangat populer, baik itu sebagai herba obat maupun sebagai bumbu penyedap masakan. Kabarnya, jahe pertama kali ditemukan di daratan India dan kemudian disebarkan ke seluruh dunia melalui pedagang Asia Tenggara, Timur Tengah, Jepang dan juga pedagang Tiongkok. Jahe merupakan tanaman tropis, yang hanya bisa bertahan di wilayah khatulistiwa seperti negara-negara Asia Tenggara. Afrika juga Brazil. Klasifikasi tanaman jahe dalam ilmu botani digolongkan ke dalam suku temu-temuan atau Zingiberaceae bersama dengan herba lainnya antara lain Kencur (Kaemferia Galanga), Lengkuas (Languasa Galanga), Lempuyang Gajah (Zingiber Zerumbet), Lempuyang Pahit (Zingiber Littorale), Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza) dan masih banyak lagi lainnya.


Jahe Dalam Ilmu Biologi

DALAM ilmu biologi, klasifikasi tanaman jahe secara lengkap sebagai berikut:

Divisi : Magnoliophyta. 
Kelas : Liliopsida. 
Bangsa : Zingiberales. 
Suku : Zingiberaceae. 
Marga/ genus : Zingiber.
Jenis/ spesies : Zingiber officinale Rocs.

JAHE digolongkan ke dalam divisi Magnoliophyta (juga dikenal dengan istilah Angiospermaae) yakni kelompok tumbuhan yang berkembangbiak secara generatif berupa bunga. Divisi Magnolophyta dibagi lagi ke dalam dua kategori yakni Magnoliopsida dan Liliopsida. Jahe sendiri dimasukkan ke dalam karegori kedua yakni Liliopsida atau tanaman monokotil atau berbiji tunggal. Tanaman monokotil ini terbagi lagi ke dalam 50.000 sampai 60.000 jenis. Jahe sendiri dimasukkan lagi ke dalam bangsa Zingiberales atau bangsa tumbuhan berbunga. Kemudian secara mendetil, jahe dimasukkan lagi ke dalam suku Zingiberaceae atau temu-temuan. Suku ini terdiri dari 50 genus yang tersebar lagi ke dalam kurang lebih 1000 jenis/spesies. Genus jahe sendiri adalah Zingiber atau herba obat. Sementara itu urutan taksonami terakhir jahe adalah Zingiber officinale.



JIKA didasarkan pada klasifikasi tanaman jahe di atas, maka ciri morfologisnya bisa diurai sebagai tanaman obat yang dilengkapi dengan bungan dan juga biji tunggal. Akar jahe dalam bentuk rimpang atau umbi. Uniknya, meski digolongkan sebagai tumbuhan magnolophhyta, pada faktanya jahe lebih banyakdikembangkan melalui rimpangnya ketimbang dengan bunga dan bijinya. Batang jahe merupakan batang semu yang bisa mencapai ketinggian maksimal 100 cm. Bagian jahe yang dimafaatkan adalah rimpang. Hal ini wajar sebab bagian tersebutlah yang memiliki kandungan senyawa kompleks seperti oleoresin (gingerol, shogaol, paradol, zingireone dan lain-lain) serta minyak atsiri. Jika didasarkan pada warna bunga, maka spesies tanaman jahe terbagi ke dalam dua jenis yakni jahe dengan bunga berwarna merah dan jahe dengan bunga berwarna putih.


Rabu, 22 Mei 2013

Klasifikasi dan Morfoogi Tanaman Jambu Air (Eugenia aquea Burm.F)

Klasifikasi dan Morfoogi Tanaman Jambu Air (Eugenia aquea Burm.F)
Klasifikasi dan Morfoogi Tanaman Jambu Air (Eugenia aquea Burm.F)
Tumbuhan jambu air berbentuk pohon, Batang jelas terlihat, berkayu (lignosus), silindris, tegak, kulit kasar, batang berwarna coklat kehitaman, percabangan simpodial. Arah tumbuh batang tegak lurus. Arah tumbuh cabang condong keatas dan ada pula yang mendatar. 

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Myrtales
Famili: Myrtaceae (suku jambu-jambuan)
Genus: Eugenia
Spesies: Eugenia aquea Burm.F

Daun Eugenia aquea merupakan daun tunggal tidak lengkap karena hanya memiliki tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina), lazimnya disebut daun bertangkai. Daun tunggal terletak berhadapan, bertangkai 0,5-1,5 cm. Helaian daun berbentuk jorong, 7-25 x 2,5-16 cm. Daun bertulang menyirip, ibu tulang daun (costa), tulang-tulang cabang (nervus lateralis) tampak jelas, dan urat-urat daun (vena) terlihat jelas. Daging daun tipis seperti perkamen (perkamenteus), permukaan daun gundul (glaber) dan memiliki daun dengan tepi rata. Ujung daun membentuk sudut tumpul (obtusus). Pangkal daun tidak membentuk sudut melainkan berlekuk. Tangkai daun berbentuk silindris dan tidak menebal pada bagian pangkalnya. 

Selasa, 21 Mei 2013

Klasifikasi dan Morfologi Kelapa Sawit (Elaeis guineensis)

Klasifikasi dan Morfologi Kelapa Sawit (Elaeis guineensis)
Klasifikasi dan Morfologi Kelapa Sawit (Elaeis guineensis)
Klasifikasi dan Morfologi tanaman kelapa sawit perlu diketahui agar kita dapat menentukan perlakuan-perlakuan yang tepat untuk pemeliharaan kelapa sawit baik di TBM maupun di TM. Berikut kami jelaskan tentang klasifikasi dan morfologinya tersebut.

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Arecidae
Ordo: Arecales
Famili: Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus: Elaeis
Spesies: Elaeis guineensis Jacq.

Daun kelapa sawit tersusun majemuk menyirip membentuk satu pelepah yang panjangnya antara 7,0--9,0 m, dimana jumlah anak daun setiap pelepah berkisar antara 250--400 helai. Pada pohon kelapa sawit yang dipelihara, dalam satu batangnya terdapat 40--50 pelepah daun, sedangkan untuk kelapa sawit liar jumlahnya bisa mencapai 60 pelepah. Daun muda yang masih kuncup berwarna kuning pucat, sedangkan daun tua berwarna hijau tua dan segar. Tanaman kelapa sawit tua membentuk 2--3 pelepah daun setiap bulannya, sedangkan tanaman muda menghasilkan 4--5 daun setiap bulannya. Produksi daun per-bulan dipengaruhi oleh faktor umur, lingkungan genetik, dan iklim.

Luas permukaan daun sangat berpengaruh terhadap produktivitas hasil tanaman. Semakin luas permukaan daun maka produktivitas hasil tanaman akan semakin tinggi. Hal ini terjadi karena proses fotosintesis akan berjalan dengan baik pada jumlah daun yang banyak, namun luas permukaan daun yang melebihi titik optimal justru dapat menyebabkan laju transpirasi tanaman tinggi, pemborosan fotosintat untuk pertumbuhan vegetatif daun, dan penurunan produktivitas hasil tanaman. Proses fotosintesis akan optimal jika luas permukaan daun mencapai 11 m2. 

Luas daun tanaman kelapa sawit dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

A = P . L . k
Keterangan :
A = Luas daun (cm2),
P = Panjang daun (cm),
L = Lebar daun (cm), 
k = konstanta; 
(a) 0,57 untuk daun belum membelah (lanset) pada pre nursery, 
(b) 0,51 untuk daun yang telah membelah (bifourcate).

Kelapa sawit tergolong tanaman yang memiliki biji keping satu (monokotil) oleh karenanya batang kelapa sawit tidak berkambium dan pada umumnya tidak tumbuh bercabang, kecuali pada tanaman yang tumbuh abnormal. Batang kelapa sawit tumbuh tegak lurus (phototropi) dan dibungkus oleh pelepah daun. Bagian bawah batang umumnya lebih besar dibanding bagian atasnya. Hingga umur tanaman tiga tahun, batang kelapa sawit masih belum dapat terlihat karena masih terbungkus oleh pelepah daun.

Setiap tahun, tinggi batang kelapa sawit bertambah pada kisaran 45 cm tergantung umur tanaman, ketersediaan hara, keadaan tanah, iklim, dan genetik tanaman. Tinggi tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan maksimum mencapai 15--18 m, sedangkan kelapa sawit liar tingginya dapat mencapai 30 m. 

Kecambah kelapa sawit yang baru tumbuh memiliki akar tunggang, tetapi akar ini akan mati pada umur 2 minggu setelah penanaman di pre-nursery dan akan segera digantikan oleh akar serabut. Akar serabut memiliki sedikit percabangan, membentuk anyaman rapat dan tebal. Sebagian akar serabut tumbuh urus ke bawah dan sebagian tumbuh mendatar ke arah samping. Jika aerasi dan drainase cukup baik akar tanaman kelapa sawit dapat menembus hingga kedalaman 8 meter didalam tanah, sedangkan yang tumbuh ke samping biasanya mencapai radius 16 m. Kedalaman ini tergantung umur tanaman, genetik, sistem pemeliharaan, dan aerasi tanah.