Tampilkan postingan dengan label Temulawak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Temulawak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 April 2013

Hama dan Penyakit Tanaman Temulawak

Hama dan Penyakit Tanaman Temulawak
Hama dan Penyakit Tanaman Temulawak

Ada beberapa hama dan penyakit yang terdapat pada tanaman temulawak, Dimana hama dan penyakit ini dapat menurunkan tingkat pertumbuhana tanaman temulawak dan akan berpengaruh terhadap produksi, dan berikut adalah hama dan penyakit pada tanaman temulawak


Hama yang dominan pada temulawak, antara lain:

1. Ulat jengkal (Chrysodeixism chalcites esp.)

2. Ulat tanah (Agrotisypsilon hufn.) dan

3. Latar rimpang (Mimegrala coerulenfrons macquart).

Pengendalian; menggunakan pestisida ramah lingkungan



1. Jamur Fusarium

Penyebab : F. oxysporum schlechtdanPhytium sp. serta bakteriPseudomonas sp. Menyerang perakaran dan rimpang di kebun atau setelah panen. Gejala:

Fusariummenyebabkan busuk akar rimpang dengan gejala daun menguning, layu, pucuk mengering dan tanaman mati. Akar rimpang menjadi keriput dan berwarna kehitam-hitaman bagian tengah membusuk. JamurPhytium sp. menyebabkan daun menguning, pangkal batang dan rimpang busuk, berubah warna menjadi coklat keseluruhan tanaman menjadi busuk.

Pengendalian : Melakukan bergiliran tanaman yaitu setelah panen tidak menanam tanaman yang berasal dari keluarga Zingiberaceae.

2. Penyakit Layu

Penyebab: Pseudomonas sp.

Gejala : Menguningnya daun, pangkal batang basah dan rimpang yang dipotong mengeluarkan lendir.

Pengendalian : Dengan pergiliran tanaman.



Gulma kebun antara lain : rumput teki, alang-alang, ageratum dan gulma berdaun lebar lainnya.

Budidaya Tanaman Temulawak

Budidaya Tanaman Temulawak
Budidaya Tanaman Temulawak
Perbanyakan tanaman dilakukan menggunakan rimpang-rimpangnya baik rimpang induk maupun rimpang anakan. Keperluan rimpang induk 1.500- 2.000 kg/Ha dan rimpang anakan 500-700 kg/Ha. Rimpang untuk bibit diambil dari tanaman tua sehat umur 10-12 bulan. 

Untuk rimpang induk dibelah menjadi 4 bagian yang mengandung 2-3 mata tunas dijemur selama 3-4 jam selama 4-6 hari, setelah itu ditanam. Sedangkan rimpang anak yang baru diambil, simpan di tempat lembab dan gelap selama 1-2 bulan sampai keluar tunas baru, atau rimpang cabang ditimbun tanah disiram rutin pagi dan sore sampai keluar tunas baru segera dipotong dengan mata tunas 2-3 mata tunas. Bibit dari rimpang induk lebih baik dari pada rimpang anak. 


Pengolahan dilakukan sebaiknya 30 hari sebelum tanam, lahan dibersihkan dari gulma dan dicangkul sedalam 30 cm, dibuat bedengan lebar 120-200 cm, tinggi 30 cm dan jarak antar bedengan 30-40 cm, Di atas bedengan dibuat lubang tanam ukuran 30 x 30 x 60 cm diberi pupuk kandang 1-2 kg, SP-36 100kg/Ha dengan jarak tanam dan kedalaman 60 x 60 cm. 


Penanaman pada awal musim hujan. Satu bibit dimasukkan ke dalam lubang dengan mata tunas menghadap ke atas, timbun dengan tanah sedalam 10 cm. 


Penyulaman, tanaman yang mati/rusak diganti oleh bibit yang sehat. 

Penyiangan, dilakukan pagi/sore membuang rumput liar, dilakukan pada 2 bulan dan 4 bulan setelah tanam bersamaan dengan pemupukan. Pengairan, dilakukan pada fase awal pertumbuhan, dengan cara dileb atau disiram menggunakan alat, berikutnya tergantung kondisi tanah dan cuaca. 

Pembumbunan, dilakukan secara rutin setelah pemupukan. 

Pemupukan susulan I diberikan saat tanaman berumur2 bulan pupuk kandang 0,5 kg/tanaman atau sekitar 10 ton/hektar, pupuk urea 95 kg/Ha dan KCL dosis masing-masing 40 kg/Ha disebarkan merata dalam larikan jarak 20 cm dari pangkal batang tanaman lalu ditutup dengan tanah. 

Pemulsaan, dengan jerami dilakukan awal musim tanam.

Klasifikasi Tanaman Temulawak ( Curcuma xanthorrhiza )

Berikut adalah Klasifikasi atau sistematik tanaman temulawak


Klasifikasi  ( Curcuma xanthorrhiza )

Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Keluarga : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma xanthorrhiza ROXB.

Syarat Tumbuh Tanaman Temulawak


Iklim
  • Tumbuh baik di lahan-lahan yang teduh terlindung dari sinar matahari, namun memiliki adaptasi yang tinggi terhadap berbagai cuaca di daerah tropis.
  • Suhu udara yang baik untuk budidaya temulawak antara 19-30°C.
  • Curah hujan yang diperlukan antara 1.000-4.000 mm/tahun.

Media tanam

  • Perakaran temulawak dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah. Namun untuk memproduksi rimpang yang optimal diperlukan tanah yang subur, gembur, drainase baik. Tanah liat berpasir yang paling ideal. Pemberian pupuk organik dan anorganik diperlukan untuk memberi unsur hara yang cukup.

Ketinggian Tempat

  • Temu lawak dapat tumbuh pada ketinggian tempat 5 - 1.000 m dpl, ketinggian optimum 750 m dpl, kandungan pati tertinggi di dalam rimpang diperoleh pada tanaman pada ketinggian 240 m dpl.